TIDAK ADA KATA TERLAMBAT


Suatu malam gue rebahan santai di kasur sembari scroll-scroll layar hp. Sudah menjadi kebiasaan rutin gue belakangan ini untuk dengerin podcast youtube atau baca ebook sebelum tidur. Alasannya sepele, karena gue terlalu mager untuk membaca buku secara fisik + gue selalu mematikan lampu 1-2 jam sebelum tidur.

Singkat cerita gue menemukan video di beranda youtube yang cukup menarik, sekaligus belum pernah gue tonton sebelumnya. Videonya berbahasa inggris, tapi inti dari video itu adalah seorang perempuan yang mencoba mengikuti daily routine nya Haruki Murakami. Buat kalian yang belum tau, Haruki Murakami ini adalah seorang penulis asal Jepang yang sudah dikenal dalam kancah internasional. Video tersebut menjelaskan daily routine Haruki Murakami yang meliputi bangun tidur pukul 4 pagi, dilanjutkan menulis 4-6 jam, lalu berlari 10km, membaca dan mendengarkan musik sesaat, hingga tidur pada pukul 9/10 malam.

Sebelum menonton video itu gue sama sekali gatau siapa itu Haruki Murakami dan gimana caranya dia bisa punya jadwal ketat semacam itu. Gue lantas nyari di google siapa Haruki Murakami dan baca baca tentang dirinya. Gue sempet menemukan buku karya Murakami yang sampai tulisan ini dibuat masih gue baca dan sepertinya cukup seru, judulnya Kafka on the Shore. Tapi bukan itu yang akan gue bahas disini, melainkan kehidupan dia yang buat gue tertarik dan cukup menginspirasi. Gue terus membaca berbagai artikel dan berita mengenai si penulis ini. Ada salah satu artikel yang bikin gue cukup terkejut ketika membacanya.

Dalam salah satu website yang mengulas mengenai gaya hidup Murakami, dikatakan bahwa ia baru menjadi penulis ketika usianya menginjak 30 tahun dan bahkan dirinya mulai berlari di usia 32 tahun. Sebelumnya, ia terbiasa menulis sambil menghisap 60 batang rokok setiap harinya. Perlahan berat badannya bertambah, jari-jarinya pun menguning, dan tentu saja badannya berbau asap rokok. Ia kemudian memutuskan untuk merombak gaya hidupnya karena merasa hal tersebut tidak baik untuknya.

 

"This couldn’t be good for me, I decided. If I wanted to have a long life as a novelist, I needed to find a way to stay in shape.”

 

Di usianya yang telah memasuki kepala tiga, ia mencoba menerapkan gaya hidup baru melalui rangkaian rutinitas yang disusunnya. Murakami kemudian melakukan rutinitas tersebut setiap hari tanpa variasi sama sekali, tetap pada urutan dan kegiatan yang sama serta berulang setiap harinya. Ia juga mengakui bahwa untuk mempertahankan rutinitas tersebut dalam waktu enam bulan hingga satu tahun diperlukan kekuatan mental dan fisik yang baik.

Kisah Haruki Murakami cukup menginspirasi gue sebagai kaum muda yang sedang memasuki kepala dua. Apalagi di masa-masa sekarang rasanya cukup sulit untuk menjaga kewarasan sebagai generasi muda. Gimana nggak sulit wong semua dianggap seperti kompetisi dan seolah dibuat standarisasi. Umur segini harus punya ini, harus bisa itu, dan segala tetek bengeknya.

Dari kisah Murakami gue sadar kalo nggak semua hal harus dicapai di usia 20an, seperti standar yang ditetapkan oleh kaum-kaum optimis itu. Gue sama sekali nggak bermaksud menghina kaum-kaum itu, tapi berbeda pendapat sah-sah saja kan? Nikah nggak harus di umur 25, apalagi punya rumah, atau punya tabungan dan investasi emas bernilai puluhan juta, ataupun punya kehidupan yang balance. Tentu sah-sah saja kalo kemudian kita baru menyadari betul makna kehidupan di usia 30, 40, 50 dan seterusnya. Hal yang paling penting lagi adalah sangat oke oke saja untuk melakukan hijrah—yang berarti melakukan perubahan diri ke arah yang lebih baik dari diri yang sebelumnya, bukan hijrah dari celana ke baju gamis dan celana cingkrang—di usia berapapun, ketika kita sudah benar-benar paham dan menyadari diri kita sendiri, apa yang kita butuhkan, dan apa yang kita inginkan.

Para pembaca yang terhormat, penulis berharap coretan ini dapat membantu kalian—termasuk penulis sendiri—dalam menyikapi standarisasi masyarakat yang kadang tidak masuk akal. Tentunya tulisan ini diharapkan juga dapat menjadi pengingat kita semua bahwa kualitas jauh lebih penting dibandingkan kuantitas. Sukses itu tidak ditentukan oleh patokan usia tapi dari kualitas diri kita sendiri. Jika kalian sedang membangun kualitas diri di usia belasan tentu hal yang baik. Tetapi jika usia kalian saat ini menginjak 20 atau 30 atau 40 pun tidak masalah untuk memulai membangun kualitas diri, karena toh pada akhirnya kita ingin mencapai tujuan yang sama, yaitu menjadi manusia yang berkualitas untuk Tuhan dan manusia lain (untuk kaum Atheis mungkin untuk sesama manusia saja).

Comments