ME TIME DI BUKIT PENGILON


Awal bulan Mei lalu gue memutuskan untuk keluar kos setelah beberapa minggu gak kemana-mana. Tujuan gue adalah  refreshing singkat sambil olahraga kecil-kecilan karena udah berbulan-bulan badan nggak dipake buat ngapa-ngapain selain rebahan dan kerja part time. Mata gue juga udah suntuk banget karena tiap hari yang diliat cuman langit-langit kamar kos. Udara yang gue hirup lebih parah lagi cuma dari kipas kamar aja dan sesekali udara sore penuh polusi waktu nyari makanan buat buka.

Bukit Pengilon jadi tujuan refreshing karena disana gue bisa hiking walaupun nggak jauh dan tinggi-tinggi amat, yang mana hal itu diharapkan bisa mengobati rasa kangen gue terhadap kegiatan naik gunung yang udah nggak pernah gue lakuin semenjak gatau kapan.Kedua, Bukit ini menurut gue cukup keren karena kita bisa ngeliat yang indah-indah bukan cuma di puncak, tapi juga di sepanjang perjalanan menuju puncak.Alasan terakhir gue memilih bukit ini adalah karena tempatnya yang masih sepi dan gak rame kayak tempat wisata lainnya. Jujur gue pribadi kurang suka pergi ke tempat yang rame, apalagi kalo tempatnya alam-alam gini rame-rame lu mau pada ngapain? ---[1]

Perjalanan dimulai dari kos sekitar jam 11 siang. Sejujurnya gue berencana berangkat pagi tapi karena satu dua hal akhirnya gue putuskan lebih baik telat daripada tidak sama sekali, lagipula gue nggak mau kehilangan momen cuaca cerah.Sebelum berpergian jauh seperti biasa gue menyiapkan cemilan, minum, dan uang buat beli bensin dan isi angin serta google maps buat menuntun gue ke jalan yang benar. Berangkat di siang bolong tentu saja bukan ide yang bagus,tangan belang, kepala pusing karena kepanasan, silau tapi yaudahlah. Perjalanan gue tempuh dalam waktu dua jam lebih beberapa menit karena berhenti-berhenti buat isi bensin, angin, dan benerin tas/ jaket. Di perjalanan menuju bukit, gue disuguhi dengan berbagai pemandangan hijau dari pepohonan, perkebunan, sawah, dan bukit berbatu yang terhampar di sebelah kanan dan kiri jalan.

Sekitar jam dua siang gue sampai di pantai Siung. Tentunya suasana pantai masih sepi karena ini masih siang dan terik banget, bahkan parkirannya aja belum ada motor dan mobil sama sekali. Gue bergegas markirin motor dan jalan ke arah timur pantai (kayaknya timur sih). Setelah tiba di bagian terujung pantai kita akan bertemu dengan beberapa anak tangga. Sesampainya di atas akan ada pos kecil, dimana kita akan diminta membayar biaya sebesar Rp 2.000,-. Kebetulan waktu gue kesana posnya kosong, jadi uangnya gue selipin di bawah tiker. Setelah pos akan ada beberapa anak tangga yang harus kalian daki lagi. Di atas nanti akan ada pos lainnya yang lebih besar serta dilengkapi dengan tempat duduk dan menara kecil dari bambu yang bisa dinaikin. Di pos ini gue ketemu ibu-ibu yang lagi beres-beres dan sempet ngobrol basa-basi sama ibunya. Setelah mempersiapkan tenaga gue pun pamit sama ibunya dan segera melanjutkan perjalanan. Siap-siap karena kalian akan menemukan hal-hal menyenangkan di sepanjang perjalanan kalo kalian sadar. Kalian Cuma perlu menikmati hal-hal kecil yang udah disediakan Tuhan!

 

Bagian-I

Dari pos tadi kita akan bertemu tanjakan, memang nggak jauh sih tapi lumayan juga untuk permulaan. Setelah tanjakan akan ada tanah datar. Di bagian ini kita sudah bisa liat pantai yang ada di bawah tadi, kalo berdiri di sore hari kita juga bisa ngeliat matahari terbenam dari sini. Dari posisi ini kalian juga bisa melihat hamparan laut yang biru banget, selain itu ada juga bukit kecil yang menurut mirip-mirip sama Kelingking Beach nya Nusa Penida gitu. Sampe sini aja bonusnya udah banyak banget, jadi buat kalian yang udah capek nggak akan merasa buang-buang waktu kalo mau istirahat sejenak di spot ini.             



Bagian-II

     Setelah lelah menanjak kalian akan menelusuri perkebunan warga yang tracknya cenderung datar. Dalam perjalanan ini kalian juga akan menemukan tanah lapang yang biasanya dipakai sebagai tempat camping. Pemandangan di spot ini nggak kalah menarik, kalian akan melihat birunya lautan yang luas banget sekaligus hamparan perkebunan warga dan hutan-hutan di perbukitan. Kalian juga bisa merasakan hembusan angin dari perbukitan dan laut yang seger banget buat dihirup, tapi jangan terlalu lama ya karena anginnya lumayan kencang. Selanjutnya kalian Cuma tinggal ngikutin jalan setapak yang ada dan ikutin papan penunjuk jalan menuju Banyu Tibo.




Bagian-III

Bonusnya belum berhenti sampai situ, karena perjalanan selanjutnya akan jauh lebih menggugah mata dan perasaan kalian. Pasca melewati perkebunan warga kalian akan bertemu dengan sapi-sapi gemuk milik warga yang lagi makanin rumput di kandangnya masing-masing. Setelah itu kalian akan memasuki fase lain dari perjalanan ini, karena track berikutnya nggak semulus tadi. Di perjalanan ini kalian akan melewati jalan setapak bebatuan yang tidak rata dan banyak ranting serta batang pohon [Yes, another adventure time]. Tapi tenang aja karena ini nggak bahaya selama kalian jalan dengan hati-hati. Bagian perjalanan ini juga lumayan bikin takut soalnya jalannya sepi banget dan sempet ngelewatin pohon-pohon bambu. Setelah melewati itu semua kalian akan bertemu dengan selokan air kecil yang suaranya bikin calming banget, bayangin aja suara burung ketemu sama suara air mengalir. Worth it lah buat berhenti sebentar. Ini spot yang gue nggak sangka-sangka, disini kita akan menyebrangi air terjun Banyu tibo. Emang sih air terjunnya gak gede tapi duduk-duduk di puncak air terjun sambil ngeliatin airnya ngalir ke laut tuh another level of happiness buat gue.


Bagian-IV

     Udah siap buat perjalanan selanjutnya? Sebelum lanjut jalan kalian boleh puas-puasin nongkrong di air terjun sambil istirahat karena track setelahnya adalah jalanan berbukit jadi ya naik turun gitu deh. Tapi jangan khawatir kalian nggak akan ngerasa capek banget karena pemandangannya super cantik. Spot pertama setelah air terjun adalah jalanan setapak menuju tanjakan bukit yang dikelilingi oleh laut dan tebing. Spotnya cukup oke buat kalian yang pengen bikin video ala-ala, viewnya berasa lagi naik gunung beneran deh pokoknya. Menurut gue pribadi spot ini adalah bagian paling menarik dan tidak terlupakan dari keseluruhan perjalanan. Sesampainya di atas bukit kalian lagi-lagi akan melihat pemandangan pantai yang dipenuhi bebatuan. Dari atas sini kita juga bisa ngeliat jalan setapak tadi dan pemandangan jurang dari samping. Kalo udah puas duduk duduk lanjut jalan naik turun bukit lagi.


            Jangan lupa sambil liat kanan kiri supaya capeknya nggak kerasa karena ngeliat pemandangan bagus! Kalo kalian udah mulai memasuki jalan menanjak terus itu tandanya kalian sudah hampir sampai di bukitnya. Selanjutnya silahkan nikmati pemandangan pantai yang diapit oleh dua bukit. Di atas sini kalian juga akan menemukan warung dan pos, kalian akan diminta dana kebersihan sebesar Rp 2.000,- aja. Kalau kalian ingin duduk-duduk diusahakan cari tempat yang anginnya nggak terlalu kenceng ya,jangan lupa awasin barang bawaan kalian supaya nggak terbang-terbang!



Bagian-V 

Keindahan bukit Pengilon belum berakhir disini. Kalo pas berangkat kalian disuguhkan dengan kombinasi pemandangan hijau dan biru, saat pulang kalian akan melihat pemandangan senja di beberapa titik. Saran gue jangan turun terlalu sore karena kalian nggak akan punya waktu untuk menikmati senja dan mengabadikan momennya. Turun lah jam 16.30 atau kalo kalian bisa turun dengan cepat turun lan jam 17.00. Tapi gue pribadi lebih suka menikmati perjalanan jadi ya gue lama-lamain aja sambil menikmati matahari yang perlahan tenggelam. Spot pertama untuk melihat matahari terbenam bisa ditemukan di bukit pertama dimana kalian menemukan bukit mirip Kelingking Beach. Sementara spot keduanya ada di tangga pertama yang kalian naikin dari pantai. 


 

[1] Sedikit cerita gue pernah muncak ke Sindoro waktu 17 Agustus, seperti biasa orang-orang pada upacara di puncak.Alhasil waktu perjalanan ke puncak gue dan temen-temen gue jalan cuma selangkah dua langkah karena saking banyaknya orang dan macet. Ya gue sih seneng sebenernya karena jadi ada alesan buat istirahat tiap berhenti, tapi ya bosen juga kalo kelamaan.

 



Comments