LIFE WITHOUT SOCIAL MEDIA


 

Hidup tanpa media sosial belakangan telah menjadi tren, khususnya semenjak kemunculan ide-ide seputar hidup minimalisme. Sejumlah pakar menyebut fenomena ini sebagai Digital Minimalism, dimana orang-orang hanya menggunakan alat komunikasi digital yang dianggap memiliki nilai penting dalam kehidupannya. Dengan kata lain, memilih dan membatasi jenis media sosial yang lebih bermanfaat dan memberi dampak—tentunya positif—bagi kehidupannya. Tapi mari lupakan soal tren dan fokus pada esensi hidup tanpa media sosial ini.

 

Proses Identifikasi: Mulai Membandingkan Diri

Gue akan memulai dari cerita yang gue alami sendiri perihal hidup tanpa media sosial ini. Sebagai seorang pengguna aktif media sosial khususnya instagram, gue sering menghabiskan waktu untuk scrol-scroll medsos. Mulai dari liat karya-karya orang, fotografi, fashion, sampe ngeliatin kehidupan orang lain. Waktu yang dihabiskan untuk buka instagram pun nggak main-main, bisa sampai enam bahkan delapan jam per harinya. Maklum saja waktu itu tiktok, twitter, dan facebook sedang tidak populer jadi satu-satunya hiburan ya cuma instagram dan youtube.

Kehidupan gue berjalan baik-baik saja dengan rutinitas tersebut sampai akhirnya gue memasuki usia 20 tahunan. Di usia itu rasa-rasa iri, dengki, dan tidak senang dengan kehidupan orang lain mulai muncul. [Istighfar sejenak] Tentu saja hal itu terjadi karena gue terus membandingkan instastory dan postingan mereka dengan kehidupan gue. Awalnya hanya iri-iri biasa, tapi lama-kelamaan cukup menjungkirbalikan mental. Beberapa kali gue mulai menyalahkan diri sendiri dan merasa kalo hidup gue sama sekali nggak menarik. Gue juga merasa kalo gue ini nggak beruntung, nggak berguna dan gak bisa apa-apa, gue nggak sehebat mereka-mereka yang ngepost story tentang keluarga harmonisnya, mobil mewah barunya, pekerjaan kerennya, hubungan gawangnya (relationship goals), atau wajah dan badannya yang seperti model Victoria Secrets itu.

 

The Ugly Truth

     Meskipun kita sering mendengar dan beberapa mungkin meng-Amin-i pernyataan ini:

Medsos itu nggak salah, harusnya kita yang mengontrol diri kita sendiri 

Gue pribadi kurang setuju sama pernyataan itu. Karena kenyataan sebenernya medsos memang dirancang sedemikian rupa untuk membuat kita kecanduan; mudah terdistraksi; memberikan rasa puas atas reward yang kita dapat lewat fitur views, like, followers; FOMO (Fear Of Missing Out); serta membuat kita merasa “spesial”. Kata dirancang ini berarti si pembuat memang mendesain model ini dengan sadar dan tujuan tertentu. Disini gue sama sekali nggak berusaha untuk memojokan atau menyalahkan medsos sepenuhnya. Gue berupaya untuk memberikan kritik terhadap teknologi itu sendiri, sekaligus membangun kesadaran kita semua.

    

Sekarang mari kita berpikir sejenak, kenapa kita hobi banget bolak-balik buka hp dan medsos, padahal (mungkin) sebagian dari kita tau gabakalan ada yang ngechat apalagi ngajak vidcall-an?

 

Karena waktu kita buka hp dan segala aplikasi di dalamnya itu rasanya kayak sebuah kotak pandora, atau kayak lagi main mesin slot, atau kayak lagi ngocok arisan, atau juga kayak lagi ikut undian berhadiah rumah, sepeda motor, mesin cuci dan sebagainya aja. Kita nggak pernah tau apa yang ada di dalam situ, apa yang lagi terjadi, apa yang lagi ngehits. Terus pas kita buka dan ternyata isinya ada notif, entah itu like, komentar, follower baru, atau dm, rasanya kayak menang undian. Kalo kalian sadari betul, rasa-rasa kayak tadi yang seringkali bikin orang-orang kecanduan buat main medsos dan bahkan merasa cemas ketika jauh dari hp nya. Istilahnya, kita ini selalu pengen menemukan “kejutan” dari ponsel kita.

     Selain itu para pendesain aplikasi tau banget karakteristik kita sebagai manusia yang kadang selalu ingin dilihat, dianggap ada, diberi pujian dan like. Jadi bukan sebuah kebetulan jika media sosial mengandung fitur post, share, like, komentar, dm, dan reply story. Beberapa fitur bahkan bersifat kuantitatif dan terpampang dengan jelas di laman profil kita [misalnya followers 10k, likes 4k, views 2k, dsb], yang membuat seakan-akan media sosial memiliki “peringkat” atau “nilai” siapa yang paling disukai, siapa yang paling famous, siapa yang paling “oke” dan sebagainya. Sekali lagi, semua ini dirancang dan memang dibuat dengan tujuan seperti itu.

 

Pertanyaan selanjutnya, berapa lama waktu yang kalian habiskan untuk scroll-scroll media sosial tanpa tujuan yang jelas?

 

    Gue udah menjawab pertanyaan itu di awal tulisan ini, yaitu 8 jam, yang artinya 1/3 dari waktu gue dalam sehari. Pernah sadar nggak kenapa kita bisa ngabisin waktu banyak banget cuma buat scroll-scroll? Karena media sosial didesain dengan feed tanpa akhir. Pernah cobain scroll home Instagram sampai post terakhir? Tentu tidak karena memang gaada ujungnya.

       Walaupun kesannya sepele tapi ini bener-bener ngaruh ke diri kita, saking asiknya scroll-scroll tau-tau udah sore aja. Masih nyambung sama pembahasan sebelumnya, kita selalu pengen tau kejutan apa yang menanti kita ketika kita scroll-scroll media sosial kita. Tapi karena home nya didesain tanpa akhir, jadinya kita yang nggak sadar terus-menerus menanti kejutan dan memusatkan perhatian kita ke sesuatu yang sebenernya kita juga nggak tau itu apa.

 

Pertanyaan terakhir, seberapa sering kalian terdistraksi dengan berbagai hal di medsos ketika lagi ngelakuin sesuatu?

 

       Gue salah satu orang yang termasuk sering terdistraksi sama ponsel ketika lagi ngerjain apapun. Bahkan kalo lagi baca ebook di ponsel, perhatian gue seringkali teralihkan karena ada notif dari medsos. Akhirnya bukan baca ebook malah jadi kemana-mana, kadang sampe ke tokped/shopee entah gimana ceritanya. Contoh lainnya adalah ketika kalian lagi ngerjain tugas, tapi tab chrome kalian isinya whatsapp, line, discord, berita, jurnal, youtube, dan lain sebagainya. Tentu saja pikiran kita akan terbagi-bagi antara baca jurnal, ngetik tugas, ngebalesin wa dan discord orang. Belum lagi kalo di situs yang kita buka ada link-link menggiurkan seperti misalnya [Judi online untung sekian juta] nggak, bercanda. Misalnya aja ada link/iklan baju-baju keren yang kalian incar dari bulan kemaren tapi karena tanggung bulan jadi kalian menunggu membelinya di awal bulan. Ya kurang lebih hal-hal seperti itu.

     Beberapa hal yang disebutkan di atas tentu cukup mendistraksi pikiran dan perhatian kita. Permasalahannya adalah, nggak semua otak orang bisa dengan mudah menentukan mana yang penting dan mana yang perlu diabaikan, mana yang urgent dan mana yang bisa dilakuin nanti dulu. Gue kasih contoh dengan kasus di dunia nyata. Ketika kita lagi ngerjain tugas, terus tiba tiba kucing depan rumah berantem + emak nyuruh lu nyuci piring + telfon rumah bunyi, lu akan dengan mudah memutuskan mana yang harus dilakukan terlebih dahulu. Setelah kerjaan satu-persatu selesai, kita pun tetap bisa mengembalikan fokus untuk ngerjain tugas tadi. Kenapa? Karena beberapa kegiatan tadi sifatnya sementara dan sekali jalan, ibaratnya lu nyuci piring 10, abis piringnya 10 yaudah kelar. Beda cerita kalo yang menggoda lu adalah medsos/link/iklan, sekali klik otak lu akan bermanuver untuk memikirkan hal lain seperti membeli baju baru, selebgram lagi liburan di Bali, dan tentunya berakhir menscroll-scroll. Belum lagi kalo link yang satu terkait dengan link lainnya yang akhirnya bikin lu lagi-lagi nggak fokus dari tugas utama yang seharusnya lu kerjain.

    

 

Proses Menjaga Jarak Dengan Media Sosial

Tahap 1:

Merasa sudah ada yang tidak beres dengan diri ini gue pun memutuskan untuk mengurangi intensitas bermain instagram. Tentunya pada prakteknya tidak semudah meng-ghosting orang yang tidak kamu cintai. Oleh karena itu gue mulai step by step dari hal yang paling kecil seperti mengurangi melihat instastory orang-orang terpilih. Gue mulai berhenti nontonin story orang-orang yang membuat gue iri dan dengki [Istighfar lagi]. Mereka ini adalah orang-orang yang sering—dalam tanda kutip—pamer pencapaian atau kehidupan "sempurna" nya. Perlu ditekankan gue sama sekali tidak membenci orang-orang tersebut, karena gue paham betul setiap orang punya cara masing-masing untuk membuat dirinya bahagia, yang mungkin salah satunya dengan membagikan kebahagiaannya. Gue juga sadar sepenuhnya bahwa persoalan disini bukan karena kebiasaan mereka, tetapi memang gue yang sedang dalam fase menyebalkan dalam hidup. Tahap ini berlangsung sekitar beberapa minggu hingga satu bulan.


Tahap 2:

Tahap kedua gue mulai melakukan hal yang lebih advance sekaligus sangat menyusahkan. Gue mulai membisukan, atau bahasa kerennya mute, semua instastory. Buat kalian yang bertanya-tanya bagaimana caranya gue membisukan 900 lebih instastory following gue, tentu saja dengan cara memencet mute satu per satu. Menyusahkan? Iya. Apakah kamu segabut itu sampai punya waktu mencetin satu-satu? IYA, tapi kalo kata Imagine Dragons mah "Whatever it Takes". Dan yang menjengkelkan adalah gue harus memencet mute lagi ketika ada following baru atau ketika following gue yang nggak aktif tiba tiba bikin story. Tentu saja kegiatan ini tidak dilakukan dalam waktu satu malam, aku bukan pembuat candi prambanan. Ketika jari sudah lelah menekan tombol mute, gue akan stop dan melanjutkan nanti atau besok lagi.

Selain membisukan story, gue juga melakukan pemblokiran notifikasi untuk instagram, facebook, tiktok, dan twitter. Hal ini dilakukan supaya gue nggak terdistraksi sama notif-notif yang setelah gue pikir-pikir sebenernya nggak penting-penting amat, kayak misalnya @abcd menyukai foto anda, @cdser teman anda di facebook mungkin mengenali anda. Gue gak peduli.

Tetapi bahkan ketika semua instastory dan notif sudah dibisukan, keinginan untuk melihat kehidupan orang lain masih ada. Sesekali gue tetap mengintip instastory orang-orang karena bosen aja dan karena ya kepo juga udah lama nggak ngeliat. Satu hal yang perlu diingat adalah bukan hal yang mudah untuk mengubah hal yang udah jadi kebiasaan, tapi tidak mudah bukan berarti tidak bisa.

Saran gue dalam menghadapi fase ini adalah cari pengalihan. Karena kita sudah terbiasa slide slide instastory, pasti gatel rasanya kalo nggak buka instastory orang sehari aja. Kalo pengalaman gue sendiri, gue memilih untuk liat story artis atau seniman yang suka berkarya karena menurut gue lebih inspiratif dan nggak membuat gue membandingkan diri dengan mereka. Sebaliknya, justru bikin gue pengen seperti mereka (dalam artian positif).

Waktu yang diperlukan sampai gue bener-bener nggak tertarik sama sekali buat ngeliatin instastory orang-orang (kecuali teman dekat) mungkin sekitar 4-5 bulan. Angka ini tentu saja nggak mutlak bagi setiap orang. Kalau kalian bisa konsisten dan kuat mental mungkin bisa lebih cepat dari ini.

 

Tahap 3:

Pada tahap selanjutnya gue bener-bener nggak buka medsos. Gue juga menghapus semua aplikasi medsos termasuk instagram, twitter, tiktok, facebook. Saat itu gue bener-bener pengen menghilang dari peradaban. Sempet beberapa kali gue deactive akun, walaupun pada akhirnya gue aktifin lagi. Bisa dibilang gue gagal di tahap ini, karena meskipun sudah menghapus semua aplikasi, gue tetap membukanya lewat browser hehe. Tahap ini cuma berlangsung dua mingguan karena gue nggak bisa sama sekali nggak buka medsos.

 

Tahap 4:

Setelah melalui proses berpikir yang cukup memusingkan, padahal cuma perkara sosmed, gue merasa bahwa gue gak perlu bener-bener ngikutin jejak orang lain yang sama sekali nggak main medsos. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan gue memutuskan untuk tetap bermain medsos, namun dengan porsi yang secukupnya. Sebagai contoh, gue bermain instagram biasanya buat nunjukin foto-foto hasil jepretan gue baik di instastory ataupun di postingan, gue juga pake instagram buat membagikan tulisan atau rekomendasi buku. Hal-hal yang gue lakuin tadi sejalan dengan visi gue untuk membagikan sesuatu yang menarik dan bermanfaat buat orang lain, jadi dalam hal ini gue ngerasa kalo gue masih memerlukan medsos sebagai sarana sharing.

Singkat cerita, gue akhirnya memutuskan untuk bermain medsos dengan sejumlah syarat. Pertama, gue tidak mengunduh aplikasi instagram, twitter, maupun tiktok di hp gue. [Gue pernah mencoba memanfaatkan fitur hide apps untuk menyembunyikan medsos, tapi kan gue yang nyembunyiin ya jadi ya tetep aja gue buka lagi:)] Kedua, gue memperbolehkan diri gue untuk mengunduh aplikasi tersebut jika benar-benar dibutuhkan, misalnya untuk merapikan feed/story dan membuat post/ story. Ketiga, gue memperbolehkan diri sendiri untuk membuka aplikasi tersebut jika memang diperlukan, misal ada berita besar, postingan penting, atau ketika udah suntuk dan butuh hiburan dsb. tetapi hanya boleh dibuka melalui browser. Hal itu masih gue jalanin sampai hari ini, dan semoga sampai seterusnya.

 

Tantangan

Memangkas waktu bermedia sosial di era digital memang bukan hal yang mudah. Minggu-minggu pertama ketika gue menghapus aplikasi medsos gue bahkan sempet beberapa kali mengalami gangguan kecemasan. Gue masih inget banget rasanya sampe sekarang, jantung berdebar, keringet dingin, rasanya resah dan gelisah, dada gue rasanya kayak diinjek sepatu gunung. Sebegitu melekatnya gue sama medsos sampe susah banget buat nahan walaupun cuma beberapa hari. Hal tersebut terjadi karena pada saat itu gue juga belum punya kegiatan apa-apa. Kerjaan gue bener-bener cuma tiduran, nonton tv pun udah males banget dan nggak berselera. Pokoknya pengennya cuma liat hp, memastikan ada “sesuatu” yang muncul di sana.

Hari demi hari gue lewatin, walaupun sempet nyolong-nyolong buka medsos tapi gapapa. Perlahan gue menemukan beberapa kegiatan yang mungkin bagi sebagian orang "nggak berguna" dan "nggak produktif" –biasanya sih produktif atau nggak nya hanya dilihat dari sisi ekonomi dan material— ya intinya gue memang nggak melakukan hal-hal yang bikin gue kaya dah. Mulai dari bikin kandang kelinci, bersihin kandang, mandiin kelinci, ngasih makan, sampe tu kelinci sudah seperti anak sendiri (padahal awalnya megang aja gak berani).

Konsistensi juga jadi persoalan utama dalam puasa medsos ini. Gue paham banget rasanya kepengen tuh seperti apa, tapi kalian harus bisa nahan. Paling nggak demi kenyamanan dan kebaikan diri kalian sendiri. Sibukan diri kalian dengan hal apapun yang kalian suka, sekecil apapun peningkatan tetaplah peningkatan. Nggak usah takut apa yang kalian lakuin dibilang nggak penting sama orang lain.

 

Cobain Yuk?

Kalo kalian pengen “ngerasain” hubungan kalian dengan medsos dan ponsel, kalian bisa coba praktekin “phone meditation” yang diperkenalkan oleh David Levy dengan cara:

1.Sadari apa yang kamu rasakan saat itu. Gimana moodmu, perasaanmu, pola napasmu, detak jantungmu, emosimu.

2. Ambil ponsel mu dan genggam tanpa membuka kunci layarnya. Kemudian rasakan apakah ada perbedaan dari kondisi mu di awal tadi.

3. Sekarang kamu boleh membuka kunci layar ponselmu. Buka aplikasi apapun yang sering kamu buka, kamu diperbolehkan untuk membalas chat, email, dm, apapun itu serta scroll-scroll medsos. Setelah itu rasakan kembali kondisimu saat itu, apakah ada perubahan dari sebelumnya?

4. Step terakhir adalah stop bermain medsos, kunci layar, dan letakkan ponselmu. Apa yang kamu rasakan?

Keempat step tadi bukan dimaksudkan untuk menjustifikasi dirimu, melainkan untuk membuat kita menyadari bagaimana kebiasaan dan perasaan kita dalam bermain medsos dan ponsel. Dengan melakukan hal-hal tadi kita bisa menjadi lebih aware akan diri kita sendiri dan pola-pola perilaku dan perasaan kita. Sehingga kita akan lebih mudah menentukan metode apa yang cocok untuk mengatasi persoalan medsos yang mengganggu diri kita.

 

Menikmati dan Merasakan Hidup

Pertanyaan selanjutnya adalah, kalau tidak main medsos terus ngapain? Jawabannya ya hidup, mau ngapain lagi memangnya. Bagi yang bekerja ya sibukan diri dengan bekerja, fokus pada kerjaan tanpa mikirin si a si b si c lagi ngerjain apa, lagi bikin apa, lagi jalan sama siapa. Bagi yang belum punya pekerjaan ya lakukan dan dalami hobi, menulis, melukis, menggambar, bermain musik, membaca, bermain video game, berkebun.

Dengan memangkas waktu bermain medsos, kita jadi punya waktu lebih yang bisa dipakai untuk apapun. Mau tidur silahkan, mau ngegame silahkan, mau olahraga silahkan, mau membuat novel silahkan. Yang jelas kalian akan merasakan waktu luang yang cukup banyak, manfaatkan hal itu.

Jika membahas lebih dalam lagi, dengan mengurangi bermedia sosial, perhatian kita menjadi teralihkan dari hal-hal yang tidak penting-penting amat. Jika semula perhatian kita terfokus pada jumlah pengikut, like, retweet, dan komentar, dan membuat seolah kualitas diri kita hanya diukur berdasarkan hal-hal itu, kini kita sendiri lah yang menentukan kualitas diri kita.

Dengan puasa medsos, kita tidak lagi mencari-cari pengakuan, afeksi, dan perhatian dari orang lain di balik layar yang mungkin sebetulnya tidak kenal-kenal amat dengan kita. Perhatian kita akan beralih kepada diri sendiri dan hal-hal yang jauh lebih penting. Sehingga kita akan lebih fokus dengan diri kita sendiri dan apa yang kita lakukan. Kita akan lebih menikmati dan menghargai momen-momen entah itu kebersamaan bersama orang-orang tersayang, momen ketika kita berhasil mencapai sesuatu, atau ketika kita mengalami kemajuan dalam hobi dan kemampuan.


Pengembangan Diri Juga Penting

Pada akhirnya gue cukup puas dengan hidup gue sendiri pasca mengurangi aktivitas bermedia sosial. Gue banyak belajar hal-hal baru (ya walaupun lagi-lagi nggak "produktif", tapi buat gue pengembangan kualitas diri juga nggak kalah penting dari sekedar mendapat gaji.

Gue bisa ikut beberapa course gratis yang tentunya menambah pengetahuan gue. Gue juga jadi punya banyak waktu bersama kelinci-kelinci gue yang lucu, dan ternyata secara nggak langsung menambah pengetahuan gue seputar perkelincian. Gue juga jadi bisa lebih fokus dan aware ketika nonton film atau baca buku, gue jadi bisa menangkap pelajaran-pelajaran atau makna-makna di dalamnya. Gue bisa menggunakan waktu gue untuk mengeksplorasi hobi-hobi gue, yang menurut gue cukup menyenangkan sekaligus memuaskan. Gue juga banyak belajar tentang hidup dan proses perdamaian diri lewat podcast youtube.

Hal-hal kayak begitu yang jarang banget orang bahas dan apresiasi. Pencapaian bagi mereka cuma sekedar menjadi dokter, pilot, artis, pengusaha. Padahal perkembangan diri pun nggak kalah penting untuk diapresiasi, paling tidak oleh diri kita sendiri. Pesan gue adalah jangan terlalu keras sama diri sendiri, apresiasi sekecil apapun peningkatan dalam diri kalian karena itu adalah hasil kerja keras kalian.


 

Tulisan ini banyak mendapatkan referensi dan inspirasi dari buku

“HOW TO BREAK UP WITH YOUR PHONE- Catherine Price.”

 

 


Comments

Popular Posts